Hari Santri: Dari Spirit Jihad ke Spirit Literasi

Setiap 22 Oktober, gema Hari Santri Nasional kembali mengingatkan kita pada satu hal mendasar: kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan dengan bambu runcing, tetapi juga dengan kekuatan ilmu dan keikhlasan hati.
Tema nasional tahun 2025, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia,” menjadi penanda bahwa perjuangan santri belum selesai — ia hanya bergeser dari medan perang ke medan pengetahuan.

Jika KH. Hasyim Asy’ari pada 1945 menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan fisik, maka santri masa kini dihadapkan pada revolusi pengetahuan: melawan kebodohan, hoaks, dan krisis literasi.
Inilah jihad baru yang lebih sunyi namun lebih menentukan — jihad melawan gelapnya ketidaktahuan melalui cahaya ilmu.

UPT Perpustakaan IAIN Manado: Lentera Peradaban dari Timur Indonesia

Dalam lanskap pendidikan Islam modern, UPT Perpustakaan IAIN Manado hadir bukan hanya sebagai ruang penyimpanan buku, tetapi sebagai rumah peradaban yang menjaga nyala intelektualitas di ujung utara Nusantara.

Perpustakaan kampus ini menjadi simbol bahwa pesantren dan perguruan tinggi Islam tidak pernah kehilangan ruhnya: semangat menuntut ilmu dengan rendah hati dan mengajarkan kebaikan tanpa henti.
Di balik rak buku dan layar digital, UPT Perpustakaan IAIN Manado sedang menjalankan misi besar — membentuk generasi santri akademis yang literat, kritis, dan global.

Digitalisasi koleksi, pelatihan literasi akademik, serta program information literacy training yang digagas perpustakaan menjadi wujud nyata kontribusi kampus dalam mengawal kemerdekaan berpikir mahasiswa.
Sebab, bangsa yang merdeka sejatinya adalah bangsa yang bebas dari kebodohan dan bebas untuk berpikir dengan akal sehat.

Santri dan Tantangan Dunia Digital: Dari Kitab Kuning ke Basis Data Ilmiah

Santri masa kini tidak lagi cukup hanya menguasai kitab kuning; ia harus mampu membaca “kitab zaman” — data, teknologi, dan wacana global.
UPT Perpustakaan IAIN Manado memahami perubahan ini. Dengan menghadirkan akses ke ribuan e-journal, repository institusi, dan database ilmiah, perpustakaan membuka jendela dunia bagi para mahasiswa dan dosen.

Melalui pelatihan literasi informasi, santri diajak mengenali sumber ilmiah yang valid, memahami etika penulisan akademik, dan menghindari plagiarisme — nilai yang sejalan dengan prinsip kejujuran dan amanah dalam Islam.
Inilah jihad intelektual yang sesungguhnya: melawan kebodohan dengan ilmu, melawan kezaliman dengan nalar, dan melawan kejumudan dengan keterbukaan.

Perpustakaan Sebagai Pesantren Ilmu

Jika pesantren dikenal dengan halaqah dan ngaji kitab, maka perpustakaan adalah versi modern dari itu semua.
Di UPT Perpustakaan IAIN Manado, mahasiswa bukan sekadar membaca, tetapi berdialog dengan pemikiran para ulama, ilmuwan, dan penulis lintas zaman.

Ruang baca berubah menjadi mihrab refleksi — tempat santri meneguhkan diri sebagai penjaga ilmu dan pembangun peradaban.
Melalui kegiatan bedah buku, peluncuran karya ilmiah, hingga kolaborasi riset, perpustakaan menjadi wahana tafaqquh fi al-‘ilm dalam format kontemporer.

Perpustakaan mengajarkan bahwa menuntut ilmu bukan hanya kewajiban akademik, melainkan juga ibadah intelektual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta melalui pemahaman yang luas dan mendalam.

Menuju Peradaban Dunia: Dari Manado untuk Nusantara dan Dunia Islam

Tema “Menuju Peradaban Dunia” bukanlah mimpi kosong.
Dari ujung utara Sulawesi, IAIN Manado — melalui peran UPT Perpustakaan — sedang berkontribusi membangun jejaring literasi Islam moderat yang menembus batas geografis.
Perpustakaan menjadi gerbang globalisasi ilmu: tempat lahirnya gagasan yang inklusif, toleran, dan berbasis riset.

Santri-santri akademis yang tumbuh di lingkungan ini bukan hanya siap menjadi guru dan dai, tetapi juga peneliti, editor, pustakawan, dan pemimpin intelektual yang mampu berbicara di forum internasional.
Mereka adalah wajah baru santri Indonesia — religius namun rasional, berakar di tanah pesantren namun berwawasan global.

Literasi adalah Jihad, Perpustakaan adalah Pesantren Abad 21

Hari Santri Nasional 2025 mengajak kita melihat ulang makna perjuangan. Bahwa menjaga kemerdekaan bukan lagi sekadar mengangkat senjata, tetapi menjaga kemerdekaan berpikir melalui literasi dan pengetahuan.

UPT Perpustakaan IAIN Manado menjadi simbol konkret dari perjuangan itu — medan jihad baru di mana pena menggantikan pedang, dan buku menggantikan benteng.
Dari rak buku yang sunyi, lahir generasi yang berpikir jernih, menulis dengan nurani, dan berdialog dengan dunia.

Dari Manado, cahaya itu menyala.
Cahaya ilmu, cahaya santri, cahaya peradaban.

Leave a Reply