Sebuah karya ilmiah terbaru berjudul Interfaith Religious Education in Indonesia resmi memperkaya khazanah studi pendidikan dan keagamaan di Indonesia. Ditulis oleh Arhanuddin Salim dan Reza Adeputra Tohis, buku ini diterbitkan oleh Cambridge Scholars Publishing dan menyoroti peran strategis pendidikan agama dalam membangun masyarakat plural yang damai dan inklusif.

Berangkat dari realitas keberagaman Indonesia yang kerap diwarnai gesekan identitas, buku ini menawarkan pendekatan pendidikan lintas iman sebagai solusi konkret. Melalui riset kualitatif berbasis studi kasus di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung, para penulis menunjukkan bagaimana dialog antarumat beragama yang terstruktur di ruang pendidikan mampu meningkatkan saling pengertian sekaligus menekan prasangka sosial.

Tidak berhenti pada tataran normatif, buku ini menyajikan kerangka teoretis tentang pluralisme religius yang dipadukan dengan praktik pembelajaran inklusif di sekolah dan lembaga pendidikan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa interfaith education bukan hanya memperluas wawasan keagamaan peserta didik, tetapi juga berkontribusi pada pencegahan radikalisme berbasis identitas.

Dalam konteks global yang semakin rentan terhadap polarisasi sosial, karya ini menempatkan pendidikan agama sebagai instrumen rekayasa sosial yang progresif. Kurikulum yang dialogis dan reflektif dinilai mampu mengubah agama dari simbol konflik menjadi medium kerja sama kemanusiaan.

Namun di balik apresiasi terhadap kualitas akademiknya, muncul pula catatan reflektif dari kalangan sivitas akademika. Buku penting ini disayangkan hanya sempat dipegang dan didokumentasikan, tanpa kemudian disumbangkan ke perpustakaan Institut Agama Islam Negeri Manado. Padahal, kehadirannya dinilai akan sangat memperkaya referensi ilmiah mahasiswa dan dosen dalam kajian pendidikan agama, pluralisme, serta resolusi konflik sosial.

Para pengamat pendidikan menilai buku ini relevan bagi pendidik, pembuat kebijakan, serta peneliti studi agama dan sosial. Selain memperkuat basis akademik pluralisme, rekomendasi praktis yang ditawarkan dinilai aplikatif untuk pembaruan sistem pendidikan nasional.

Di tengah tantangan keberagaman Indonesia hari ini, karya ini hadir sebagai pengingat bahwa ruang kelas bisa menjadi fondasi paling kuat bagi masa depan sosial yang damai — dan bahwa akses pengetahuan semacam ini seharusnya diperluas, bukan sekadar lewat genggaman sesaat, melainkan melalui perpustakaan yang hidup sebagai pusat peradaban ilmiah.

Leave a Reply